scenery

scenery
be fresh

Selasa, 29 Mei 2012

5 Perilaku Orangtua yang Bikin Anak Stres

Siapa bilang hanya orang dewasa saja yang bisa terserang stres? Anak-anak pun bisa. Biasanya orang dewasa terserang stres karena masalah pekerjaan, keuangan dan lainnya. Bagaimana dengan anak, apa pemicu stres mereka? "Faktor penyebab anak menjadi stres adalah perilaku dari orangtuanya sendiri," tukas Rustika Thamrin, Spsi, CHt, CI, MTLT, psikolog dari Brawijaya Women and Children Hospital kepada Kompas Female, saat talkshow "How to be a Healhty & Productive Career Women" di Thamrin Nine, Jakarta Pusat, Jumat (27/1/2012) lalu. Menurut Rustika ada beberapa perilaku orangtua yang tidak disadari bisa menimbulkan tekanan pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan stres. Berikut beberapa penyebabnya: 1. Melarang anak menangis Semua orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stres. "Beban dan tekanan ini terutama dialami oleh anak laki-laki dibanding perempuan, karena di kultur Indonesia laki-laki itu dianggap mahluk yang paling kuat sehingga tidak boleh menunjukkan kelemahannya sedikit pun," ungkapnya. Pola pikir anak-anak dan dewasa berbeda. Anak, terutama pada balita, hanya akan menyerap kata-kata yang terdengar, dan belum bisa memprosesnya dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa. Misalnya, ketika anak terjatuh dari sepeda dan kemudian menangis. Jika yang terjatuh adalah anak perempuan, orangtua biasanya akan membiarkannya untuk menangis. Tetapi ketika yang mengalami adalah anak laki-laki, orangtua pasti akan melarangnya menangis diiringi pesan, "Kamu tidak boleh menangis", "Kamu kan laki-laki, tidak boleh cengeng", atau "Kamu kan anak laki-laki yang kuat, luka ini tidak ada apa-apanya." Sekilas, tak ada yang salah dengan kalimat tersebut, karena tujuannya memotivasi anak untuk tidak cengeng. Namun, ketika diserap oleh otak anak, kalimat ini akan memiliki arti yang berbeda. Kalimat tersebut akan diterima sebagai sebuah perintah, yang akan selalu ada di otak mereka sampai dewasa. Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisnya, dan memendam perasaan sedihnya. Hal inilah yang membuat anak menjadi stres. "Tidak heran kalau laki-laki jarang dan malu menangis, karena dari kecil sudah dijejali dengan perkataan seperti itu. Padahal orang sah-sah saja untuk menangis dan mengeluarkan perasaan mereka," tambah Rustika. Menangis boleh saja, yang harus dikontrol adalah frekuensinya. 2. Perilaku orangtua tidak konsisten Menurut penelitian, anak-anak usia 1-7 tahun akan lebih mudah menyerap berbagai hal di sekitarnya melalui bahasa tubuh seseorang (90 persen), intonasi suara (7 persen), dan kata-kata (3 persen). "Orangtua yang plin-plan akan membuat anak kebingungan, dan akhirnya stres karena orangtuanya tidak konsisten," tambahnya. Seharusnya orangtua bersikap tegas dalam mendidik anak, dan antara suami dan istri bekerjasama agar tercapai kata sepakat. Misalnya, anak dihukum ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika ia mengulangi kesalahannya, orangtua tidak menghukumnya. Bahasa tubuh orangtua yang tidak konsisten ketika menghadapi masalah yang sama, seperti kadang bersikap galak dan kadang baik, akan membuat anak tertekan. 3. Membeda-bedakan anak Banyak orangtua yang secara tak sadar membeda-bedakan anaknya. Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya pembedaan sikap orangtua. "Ketika adik kakak berkelahi, biasanya nada bicara orangtua akan lebih lembut ke adik dibanding kakak, karena mengganggap bahwa kakak yang sudah lebih dewasa harus mengalah," bebernya. Intonasi suara yang berbeda ketika menghadapi kakak dengan nada yang keras, dan adik dengan nada yang lembut, akan membuat si kakak merasa si adik lebih disayang dan ia pun menjadi tertekan. 4. Labeling pada anak Salah satu yang paling berbahaya yang dilakukan orangtua kepada anak adalah memberi label atau cap kepada anak. Kata-kata seperti, "Dasar kamu anak pemalas", atau "Kamu kegemukan, makanya pakai baju apa saja tidak ada yang cocok", atau "Kamu kok lemot sih, nggak pinter seperti kakakmu?". Hati-hati, labeling, apalagi yang diiringi dengan tindakan membanding-bandingkan anak, tak hanya membuat anak merasa tertekan, tetapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga ia dewasa. 5. Terlalu sering melarang Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun, sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan orangtua, lalu berusaha membatasi gerak mereka. "Jangan main di sana", atau "Jangan dipegang-pegang!", dan masih banyak kata larangan lain yang digunakan orangtua untuk membatasi kreativitas anak. Meski memiliki tujuan yang baik agar si anak tidak terluka, namun kata-kata "jangan" dan "tidak" ternyata bisa membuat anak menjadi stres karena mereka tidak bebas untuk melakukan apapun. Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena tidak sayang pada anak. "Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu," ujar Rustika.

7 Akibat dari Serangan Stres

Sudah banyak diketahui bahwa stres bisa menimbulkan berbagai masalah bagi kesehatan seseorang. "Perlu ada manajemen stres yang baik agar stres tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang serius dan buruk bagi tubuh," tukas Rustika Thamrin, SPsi, CHt, CI, MTLT, psikolog dari Brawijaya Women and Children Hospital, dalam acara "How to be a Happy and Productive Career Women" di Thamrin Nine, Jakarta, beberapa waktu lalu. Akibat stres tidak hanya tampak kondisi wajah yang murung atau lekas tersinggung dan marah. Ada beberapa akibat lain yang tanpa Anda sadari bisa mengganggu aktivitas Anda sehari-hari: 1. Emosi negatif. Hal yang paling mudah terlihat ketika Anda mengalami stres adalah adanya emosi negatif yang tidak stabil sehingga menyebabkan seseorang menjadi mudah marah karena emosi yang tidak terkontrol. 2. Perilaku buruk. "Stres bisa memicu perbuatan buruk seseorang, misalnya mengonsumsi narkoba, atau bunuh diri. Hal ini sebagai bentuk penyimpangan karena dia tidak mendapatkan kesenangan dalam hidupnya sehingga dia mencari pelampiasan dengan melakukan perbuatan buruk," tambahnya. 3. Konsentrasi terganggu. Stres sangat memengaruhi pikiran Anda, termasuk dalam berfokus pada sesuatu hal. Jangankan mengerjakan beberapa hal sekaligus, melakukan satu hal saja kadang-kadang membutuhkan waktu lama. Kalau sudah begini, Anda akan sulit menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas. 4. Gangguan makan. Pada beberapa orang, stres bisa membuat seseorang kehilangan selera makan, atau sebaliknya, membuat keinginan makan menjadi bertambah berkali-kali lipat. Jelas gangguan makan ini akan berakibat buruk bagi pengidapnya. Tak ada yang ingin menjadi obesitas gara-gara stres, kan? 5. Hiperaktif. Hiperaktif di dalam otak menyebabkan orang tidak dapat berpikir secara normal. Mereka bisa membuat keputusan tanpa dipikirkan lebih dulu, salah menilai orang lain, memori pun terganggu. Pada akhirnya, kondisi ini akan menyebabkan timbulnya masalah bagi dirinya sendiri. 6. Mudah sakit. Stres sangat memengaruhi kekebalan tubuh seseorang sehingga akan menyebabkannya mudah terserang penyakit. Salah satu penyakit yang sering menyerang tubuh ketika stres adalah migrain dan juga maag. "Sekitar 80 persen orang mengalami masalah kesehatan karena disebabkan oleh gangguan fungsional dalam tubuh akibat stres sehingga hormonnya terganggu. Sedangkan 20 persennya adalah benar-benar karena alasan kesehatan yang menurun atau luka," jelas Rustika. 7. Insomnia. Stres bisa mengganggu otak dan memberi beban berat sehingga memengaruhi waktu tidur dan juga kualitas tidur. Jangan lupa, insomnia bukan masalah berapa jam Anda tidur, melainkan lelap-tidaknya Anda tidur. Meskipun Anda menghabiskan tujuh jam di atas tempat tidur, misalnya, tetapi jika Anda tak dapat mengistirahatkan pikiran, itulah saat Anda mengalami insomnia.

Belanja Jadi Pelarian Akibat Stres?

Masalah yang dihadapi dalam pekerjaan maupun rumah tangga bisa membuat manusia terserang stres. Hal ini diperparah dengan sikap tidak mengakui bahwa dirinya mengalami stres, bahkan berusaha mengingkarinya. Padahal pengingkaran stres justru akan membuat stres lebih parah, dan akan membuat Anda tidak mampu menyelesaikan akar masalah tersebut. "Ini bisa terjadi karena masih tingginya ego diri, dan masih mementingkan gengsi serta pencitraan di mata orang," ungkap psikolog Rustika Thamrin, SPsi, CHt, CI, MTLT, dari Brawijaya Women & Children Clinic, beberapa waktu lalu. Ketika sudah terserang stres, orang lebih senang mengalihkan perhatian daripada menyelesaikan penyebab stresnya. Dengan kata lain, mereka lebih fokus untuk mencari pelarian. Dengan melakukan pelarian ini, mereka berharap bisa menghilangkan semua masalahnya, dan mendapatkan kesenangan. Sayangnya, melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan semakin menambahnya. Sebab apa yang menjadi pelarian biasanya merupakan hal yang negatif, dan biasanya tidak disadari. Sikap workaholic merupakan salah satu pelarian terhadap stres yang tidak disadari, yang biasanya dipicu oleh keadaan di rumah yang membebani penderitanya. "Ketika punya masalah di rumah, biasanya mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor untuk menghindari keluarga, dan berdalih banyak pekerjaan di kantor. Ujung-ujungnya menjadi seorang workaholic," bebernya. Alih-alih menjadi senang dan terhindar dari masalah, justru masalah akan semakin parah karena semakin tak ada komunikasi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Bila terus dibiarkan, bisa jadi akan berakhir dengan perceraian. Anda juga perlu berhati-hati jika belakangan Anda jadi gemar berbelanja, karena bisa jadi hal ini juga dipicu oleh serangan stres. Jika hanya sebatas doyan belanja, mungkin tidak masalah. Yang jadi masalah kalau belanja menjadi kebiasaan yang tak terkendali. "Biasanya kalau shoppaholic itu hanya lapar mata saja, dan hanya untuk mencari kesenangan, tanpa peduli harga, membayar dengan kredit, sampai tidak tahu digunakan untuk apa," ujar Rustika. Masalah baru akan muncul ketika timbul utang dimana-mana, dan barang-barang jadi menumpuk tak berguna. Namun, pelarian yang paling berbahaya pada penggunaan obat-obatan terlarang, sampai bunuh diri, yang sekarang ini banyak dilakukan orang sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan masalah.

6 Tips Pelepas Stres Tanpa Biaya

Reputasi stres sebagai penyebab hilangnya kebahagiaan, sampai penyebab penyakit, rasanya sudah sangat dikenal. Sayangnya tak banyak orang yang sadar bagaimana mengelola stres yang sulit dielakkan dari kehidupan. Setiap orang memerlukan kegiatan rekreasi sebagai pelampiasan untuk mengendurkan ketegangan. Para ahli psikologi bahkan menegaskan bahwa rekreasi sangat penting untuk kesehatan jiwa karena tekanan hidup yang berat memerlukan penyaluran agar tidak menyebabkan frustasi. Ingin mengurangi tekanan hidup dengan murah dan tanpa mengurangi waktu? 6 tips pelepas stres berikut mungkin bisa Anda masukkan dalam agenda harian. 1. Membaca buku Ini merupakan kegiatan yang bukan saja membuat kita sejenak berhenti memikirkan segunung masalah, tapi juga membuat kita seolah masuk ke dunia baru yang sedang dibaca. Membaca di malam hari adalah kegiatan yang dianjurkan. Kamar tidur adalah tempat yang hangat, nyaman, dan damai. Kombinasikan dengan buku bagus, maka Anda akan merasa kembali fokus pada diri sendiri. 2. Duduk di taman Bila Anda jeli, sebenarnya cukup banyak "oase" kecil di sekitar kita. Selain di area kompleks perumahan, taman kecil yang hijau kini sudah lumayan banyak bertebaran di sekitar perkantoran. Luangkan waktu sekitar 5 menit untuk duduk menikmati udara segar dan hijaunya taman. 3. Melihat foto Melihat-lihat kembali album foto dari peristiwa menyenangkan adalah salah satu pelepas stres yang murah dan efektif. Bayangkan kembali diri Anda pada peristiwa bahagia tersebut dan rasakan sensasinya. 4. Berjalan kaki atau olahraga Aktivitas fisik adalah cara yang sehat untuk melepas stres karena bisa memicu hormon-hormon antistres. Luangkan waktu beberapa menit setiap pagi atau setelah makan siang. 5. Meditasi Setiap aktivitas yang bisa membuat perhatian kita tetap tenang dan fokus sudah bisa disebut sebagai meditasi. Itu berarti bisa kegiatan menyulam, menulis, menjahit, atau duduk diam. Lakukan 5-10 menit setiap hari dan rasakan kadar stres yang menurun. 6. Ambil jeda Bila emosi sudah tidak bisa dibendung, alihkan perhatian Anda untuk sejenak fokus pada sesuatu yang baru. Misalnya melihat ke jendela, menyeruput teh hangat, atau memperhatikan pohon yang tertiup angin. Biarkan imajinasi Anda bebas untuk sesaat.